web hit counter
//
you're reading...

College's Life

Memulai Karir sebagai Dosen

Jelang akhir periode belajar di jenjang S2 ini membuat saya berpikir ulang rencana-rencana jika ini semua usai. Akan kemana saya melangkahkan kaki setelah ini? Berdasar esai yang saya tulis untuk beasiswa LPDP, di dalamnya tertera rencana saya mengambil S2 sebagai jalan memulai karir sebagai dosen.

Hampir genap dua tahun berjalan, apakah saya masih berminat jadi dosen? Pertanyaan apa ini, hahaha.

Memulai Karir sebagai Dosen: Mengajar

Memulai Karir sebagai Dosen: Mengajar

Setelah membaca dua tulisan Pak Abdul Hamid di sini (Panduan Memulai Berkarir Sebagai Dosen di Indonesia Bagi Anda yang Bergelar Doktor) dan di sini (Mari Menjadi Guru Besar) kamu akan tahu dan bisa menghitung berapa lama kira-kira seseorang dapat meraih posisi puncak dalam berkarir menjadi Guru Besar.

 

Memulai Karir sebagai Dosen

Rata-rata kampus saat ini membuka lowongan dosen untuk mereka yang memiliki ijazah pendidikan minimal S2. Selain itu kamu harus punya prestasi yang lumayan untuk diterima institusi tujuan, misalnya punya publikasi atau lulus cum laude. Syarat usia juga biasanya ada, apalagi untuk posisi dosen tetap dan langsung PNS. Karena usia juga, itu membatasi kalau ingin lanjut S3 lagi. Sekolah S3 itu berkisar 3 sampai 5 tahun, ya investasi usia yang cukup lama untuk sebuah karir.

Iseng saya menghitung usia dosen-dosen saya saat ia memulai karir sebagai dosen. Lima profil anonim berikut saat tulisan ini diunggah belum ada yang meraih posisi Guru Besar.

 

Dosen 1: Beliau lahir pada tahun 1975. Tahun 1998 (usia 23) lulus S1. Tahun 2002 (usia 27) resmi jadi dosen dan mengajar di kampus. Tahun 2003 (usia 28) lanjut sekolah S2. Tahun 2005 (usia 30) pulang ke Indonesia membawa gelar Master. Mengajar 2 tahun (2005-2006) di kampus, lalu tahun 2007-2010 (4 tahun) lanjut sekolah S3. Pulang ke Indonesia dengan gelar PhD di usia 36 tahun. Sejak 2011 hingga saat ini masih aktif mengajar di kampus.

Dosen 2: Beliau lahir pada tahun 1968. Tahun 1993 (usia 25) lulus S1. Tahun 1995 (usia 27) diangkat menjadi dosen di kampus, jaman dulu lulusan S1 bisa banget jadi dosen. Dalam rentang tahun 1997-1998 (usia 29-30) menempuh pendidikan Magister. Setelah itu mengajar sebentar dan lanjut sekolah S3, pada tahun 2006 (usia 38) balik ke Indonesia dengan gelar PhD. Hingga saat ini beliau masih aktif mengajar di kampus.

Dosen 3: Beliau lahir pada tahun 1975. Kepo tidak berhasil mencari tahun kapan beliau lulus S1. Yang jelas tahun 2002 (usia 27) meraih gelar Master dari sebuah kampus. Terus masih betah belajar dan akhirnya tahun 2005 (usia 30) meraih gelar PhD dari kampus yang sama sebelumnya. Pulang ke Indonesia dengan gelar Doktor melamar posisi dosen dan pada tahun 2006 (usia 31) diangkat jadi dosen.

Dosen 4: Beliau lahir pada tahun 1978. Masuk S1 tahun 1996 (usia 18) dan lulus pada tahun 2001 (usia 23). Nah beliau ini semangat sekolah jadi S2 dan S3 lanjut terus sampai post doctoral. Tahun 2003 (usia 25) meraih gelar Master dan tahun 2008 (usia 30) meraih gelar PhD dari sebuah kampus. Lalu beberapa tahun setelahnya post doctoral di kampus yang sama. Baru diangkat menjadi dosen pada tahun 2012 (usia 34). Hingga saat ini masih mengajar di kampus.

Dosen 5: Beliau lahir pada tahun 1979. Pada rentang tahun 1998-2002 menempuh studi S1, lulus tahun 2002 (usia 23). Dua tahun kerja di industri, lalu kembali ke kampus untuk sekolah S2 dari 2004-2006. Meraih gelar Master di usia 27 tahun. Sepertinya setelah itu menjadi asisten akademik di kampus, belum jadi dosen. Diangkat menjadi dosen pada tahun 2010 (usia 31). Di tahun yang sama berangkat sekolah S3 selama 3 tahun. Pada tahun 2013 (usia 34) membawa pulang gelar PhD. Hingga saat ini masih mengajar di kampus.

 

Saya: Masuk S1 tahun 2009 (usia 17). Lulus S1 tahun 2014 (usia 22). Masuk S2 awal 2016 (usia 23). Target lulus S2 akhir tahun 2017 ini (usia 25). Selanjutnya.. masih dalam genggaman-Nya.

 

Dengan melihat profil dosen-dosen saya di atas, ternyata ada banyak ruang kosong dan sepi di mana beliau-beliau ini belum waktunya dihormati. Betapa payah sekolah S2 dan S3 dijalani, baru tahun-tahun setelah itu menuai manisnya. Bukan hal rahasia lagi gaji awal dosen jauh lebih rendah dibandingkan pendapatan di perusahaan multinasional. Sekolah mereka semua untuk S2 dan S3 semua dari beasiswa. Kalau dilihat di atas paling cepat dosen saya diangkat dosen di usia 27 tahun, itu pun dengan ijazah S1. Peraturan berubah, bahkan lowongan dosen kampus-kampus ternama saat ini minimal hanya menerima lulusan S3. Dosen saya yang lain diangkat di usia 31 dan 34 tahun, berarti saya harus ‘nunggu’ 6-9 tahun untuk diangkat sampai jadi dosen. Dalam kurun waktu itu saya harus sekolah dulu S3. Padahal S3 itu lebih mengerikan dari S2, seperti maraton.. rutenya lebih panjang dan staminanya harus lebih lama. Dan yang lebih penting harus mencari topik riset S3 dan mencari institusi yang mau memberi beasiswa.

Memulai Karir sebagai Dosen: Zona Tidak Nyaman

Memulai Karir sebagai Dosen: Zona Tidak Nyaman

Ada banyak ruang dan waktu ketidakpastian, zona tidak nyaman, zona risiko yang harus dihadapi para calon dosen. Sebelum menyadari kenyataan ini, dulu saya dengan gampang bilang mau jadi dosen. Sekarang jadi mikir lagi kan.. mempertimbangkan pilihan langkah di tahun 2018 yang hanya sebentar lagi. Singkat kata dalam 5 tahun ke depan saya akan literally tetap tidak punya apa-apa kalau masih serius meniti karir dosen ini. Tentu saja ini pernyataan gegabah, walakin memandang peraturan pemerintah tentang perdosenan dan situasi di Indonesia ya kira-kira itu yang akan terjadi.

Saya melihat kawan-kawan yang dari S1 langsung bekerja sepertinya sudah bisa menikmati hidupnya hanya setelah 3-4 tahun bekerja. Sementara saya 3 tahun setelah lulus S1 masih nggak jelas. Sekolah S2 itu jalan sepi, sedikit yang menjalani, tidak ada gemerlapnya dibandingkan yang langsung bekerja. Beberapa kawan sudah naik posisi di perusahaannya masing-masing, berkeluarga, dan menetap di sebuah kota. Sementara lulusan S2 itu tanggung, ada terbatas sekali perusahaan yang getol mencari lulusan S2. Lulusan S3 apalagi, lebih dihindari oleh perusahaan Indonesia, karena over qualified. Perusahaan Indonesia khawatir tidak kuat menggaji mereka memandang skill dan pengetahuan yang mereka punya. Opsinya kalau nyari kerja akhirnya harus ke luar negeri, karena orang-orang pinter lebih ‘diterima’ dan ‘dihargai’ secara layak di luar sana.

Obrolan dengan seorang kawan tentang usia, betapa investasi 2 tahun bisa membuat seseorang punya posisi dan karya berdampak di sektor masing-masing. Sekolah lagi, adalah momen ketika kamu ‘menghilang’ dari dunia ini. Sesaat kamu akan terputus dari jaringan dan tidak bisa aktif menyambung hubungan-hubungan. Kalau bisa pun, pasti ada yang dikorbankan. Karena periode sekolah adalah masa-masa kamu mengisi dan memperbesar wadah, memang belum saatnya meluberkan atau membagi isinya. Secara kotor periode S2 itu bukan 2 tahun tapi 3-4 tahun, sebab ada persiapan bahasa, mengurus pendaftaran kampus, mencari beasiswa, dan menanti wisuda (walakin banyak yang melewatkan wisuda sih). Belum lagi sekolah S3, periode waktu kotornya sangat lama tapi lebih pendek untuk persiapan, karena sudah ada pengalaman di persiapan S2. Selama persiapan dan waktu-waktu ‘kosong’ itu kami harus mencari cara untuk melanjutkan hidup dengan kerja paruh waktu di mana saja asal meringankan beban orang tua.

Strategi memulai karir sebagai dosen di antaranya ialah dengan menjadi Teaching Assistant (TA) atau Asisten Kuliah salah satu dosen. Dengan masuk ke dalam sistem, kamu akan dikenal di antara dosen-dosen. Kamu akan menghadapi mahasiswa, tugas-tugas mereka, koreksian kuis, koreksian UTS dan UAS. Jam kerja yang dibebankan kepada seorang TA cukup lumayan, meski demikian di Indonesia posisi ini tidak menyelamatkanmu dari sisi finansial. Esensi menjadi TA adalah dosen-dosen mengenal kamu, sehingga jika ke depan kamu bermaksud masuk menjadi dosen maka mereka lebih mudah mempertimbangkan orang yang sudah pernah dikenali. Berapa lama harus menjadi asisten kuliah atau asisten akademik? Hmm.. paling beruntung hitungan 0 tahun sampai bertahun-tahun. Pasalnya posisi dosen itu ada antreannya. Sebagai junior wajib paham kalau sudah ada senior yang sudah mengantre duluan. Sudah begitu, untuk jadi dosen harus lewat seleksi. Dosen kenal kalian tidak jadi jaminan seleksi institusi pasti lulus. Dalam posisi dan durasi ini, masa depan kalian sama sekali tidak jelas.

Strategi lainnya adalah punya nilai IPK yang bagus dan rajin publikasi, minimal ikut konferensi. Meski demikian IPK yang bagus hanya manjur di seleksi berkas, adapun di tahapan seleksi berikutnya agaknya kurang begitu menyelamatkan. Kemahiran mengajar, corak kepribadian, dan rekomendasi orang dalam akan punya bobot lebih berat. Publikasi di era kompetisi seperti ini jadi penting. Walakin kuliah sambil riset itu susah. Program belajar S2 di dalam negeri kita masih berbasis kuliah, sehingga kita harus mengambil mata kuliah wajib dan pilihan sampai 3 semester, baru di semester 4 fokus riset. Sementara di luar negeri, program belajar S2 sudah ada yang menyediakan berbasis riset. Sehingga dalam kurun periode belajar tersebut seorang mahasiswa master sudah bisa langsung riset dan leluasa menerbitkan publikasi. Saat menjalani kuliah 12 SKS (di ITB maksimal 16 SKS) itu sudah setara dengan 24 SKS saat S1. Waktu luang memang masih ada, walakin sebagai manusia biasa.. untuk mengendorkan stres kami memanfaatkannya untuk kebutuhan pribadi yang lebih menghibur.

 

Zaman Berubah

Menengok 20-30 tahun berlalu banyak sekali yang sudah berubah. Beda rezim.. dari Presiden Soeharto hingga Presiden Jokowi. Eranya sudah berubah, teknologi dan informasi. Kebutuhan dan tantangannya berubah. Membangun strategi.. memulai karir sebagai dosen juga berubah. Jika dulu syarat administratif penerimaan dosen ijazah S1 cukup, maka sekarang minimal S2 atau S3. Dulu biaya hidup tidak semahal sekarang, mau lanjut sekolah lagi jadi urung. Di kalangan peneliti level dunia pun area dan tantangan risetnya lebih kaya dan bermacam. Generasi zaman ini harus berpikir kembali dan menyusun strategi secara lebih rapi untuk hadapi kenyataan. Meski tawaran beasiswa ada dari mana-mana, toh syarat mendaftar beasiswa juga masih digantung tinggi. Sekali daftar beasiswa juga tidak lantas pasti diterima. Dan yang lebih penting, sebagus apapun beasiswamu menutup biaya-biaya, yang namanya belajar itu tetep aja susah. Mana ada belajar hal baru kok mudah? 

memulai karir sebagai dosen

Rumput tetangga lebih hijau..

Rumput tetangga memang akan selalu lebih hijau. Saat ini yang bisa saya lakukan adalah count my blessings. Dan jika kamu juga berpikir ingin memulai karir sebagai dosen, then count your blessings too!

 

Cheers,
Rifqi

Bandung, 24 Safar 1439 (13 November 2017)