web hit counter
//
you're reading...

Featured

Menikah Sebelum Mapan (NAK Indonesia)

Kuliah WhatsApp “Menikah Sebelum Mapan” adalah kuliah whatsapp yang diisi oleh Ustadz Adriano Rusfi, diselenggarakan oleh Komunitas Nouman Ali Khan Indonesia (NAK Indonesia) pada tanggal 28 Mei 2017 lalu.

Menikah Sebelum Mapan

Kuliah WhatsApp Menikah Sebelum Mapan oleh Ustadz Adriano Rusfi.

Menikah Sebelum Mapan

Sahabat-sahabat sekalian, sesungguhnya dunia ini adalah negeri yang penuh dengan perjuangan. Oleh karena itu, mari kita mempersiapkan diri kita dan generasi generasi sesudah kita sebagai orang-orang yang siap dalam menghadapi perjuangan hidup.

Kita sama-sama tahu bahwa kehidupan itu semakin lama semakin keras, sementara itu anehnya pendidikan itu semakin lama semakin lunak. Oleh karenanya Mari kita mempersiapkan generasi berikutnya sebagai generasi yang ditempa dalam kehidupan dan siap dalam menghadapi kerasnya kehidupan di masa yang akan datang.

Salah satu diantaranya adalah menikah dalam kondisi kehidupan yang belum mapan agar kita mampu mendidik anak-anak kita dalam kesederhanaan dalam perjuangan hidup bersama kedua orang tuanya dan dalam kondisi ekonomi yang masih penuh dengan fluktuasi turun dan naik.

Pernikahan sebelum mapan adalah pernikahan yang dilakukan saat usia kita masih muda. Menikah dalam usia muda juga sangat membantu untuk lahirnya generasi-generasi yang penuh dengan idealisme.

Menikah di usia muda juga sangat membantu dalam melahirkan generasi yang menghadapi masalah-masalah dalam kehidupannya. Dan Allah telah berfirman bahwa surga hanyalah akan diberikan kepada orang yang pernah menghadapi gonjang-ganjingnya kehidupan.

Usia muda adalah usia dengan penuh idealisme penuh dengan mimpi-mimpi, penuh dengan harapan harapan

Pada usia muda seseorang akan cenderung sangat heroik, tak terlalu pragmatis dan sebagainya sehingga dengan menikah pada usia muda dia pun akan cenderung melahirkan anak anak yang dididik dengan idealisme, yang dididik dengan nilai kebaikan dan kebenaran, yang dididik untuk berjuang dalam menggapai cita-cita

Sangat berbeda dengan orang-orang yang menikah pada usia yang relatif telah lanjut. Rata-rata idealisme mereka telah berganti dengan pragmatisme, sehingga mereka pun akan cenderung mendidik anak yang berbasis pada pragmatisme.

menikah sebelum mapan menikah sebelum mapan menikah sebelum mapan menikah sebelum mapan menikah sebelum mapan menikah sebelum mapan menikah sebelum mapan menikah sebelum mapan menikah sebelum mapan menikah sebelum mapan

Berikut dilanjutkan dengan diskusi dan tanya-jawab ‘Menikah Sebelum Mapan’, saya catatkan yang esensi di bawah ini.


Anis Riswati: Faktor apa saja pak yang dibutuhkan untuk menikah saat usia muda? Krn menurut saya kematangan psikologis juga sangat penting.

Pada dasarnya seseorang yang telah berani mengambil keputusan untuk menikah pada usia muda, dia telah memiliki kematangan psikologis yang memadai.

Faktor-faktor lain yang dibutuhkan untuk menikah pada usia muda adalah nyali dan tanggung jawab: nyali untuk mengarungi kehidupan yang penuh dengan problematika dan tantangan, serta tanggung jawab adalah satu kesanggupan untuk memikul segala resiko dan beban dari sebuah kehidupan berumah tangga.


Faiza Fauziah: Bagaimana kriteria memilih calon suami? Bagaimana bila ada orang yang taat ibadah, namun leadership dan inisiatifnya lemah, padahal kan lelaki itu pemimpin ya,, apakah itu bisa dijadikan kriteria juga?

Dalam statistik berlaku prinsip: bertambah kriteria maka berkurang peluang.

Orang-orang yang terlalu banyak membangun kriteria perjodohan, akan memiliki peluang yang lebih sedikit untuk mendapatkan jodohnya sendiri.

Bagi saya kriteria utama untuk menjadi calon istri yang baik adalah TAAT, sedangkan kriteria utama untuk menjadi calon suami yang baik adalah TANGGUNG JAWAB. Tentu saja sebelum itu ada kriteria standar keagamaan Di luar itu semua itu adalah kriteria-kriteria tambahan saja.

Mari kita percaya satu hal, bahwa Allah tidak pernah salah memberikan jodoh dan memasangkan jodoh kepada hamba-hambanya.


Esal: Menikah sebelum mapan itu konteksnya hanya berpandangan ke materi/ekonomi yaa Pak..

Kalau dalam konteksnya pendidikan, ilmu atau hal apa saja apa saja yang diperlukan untuk dijadikan standar untuk berani menikah??

Standar untuk berani menikah pada dasarnya hanyalah NYALI. Pengetahuan tidak menjadi standar untuk menikah, karena dalam pernikahan itu sendiri Allah akan membekali hamba-hambanya dengan pengetahuan. Dan kita juga dapat menggali pengetahuan dalam pernikahan.

Terlalu banyak pengetahuan untuk memutuskan menikah justru akan membuat kita semakin ragu dalam menikah, karena dalam beberapa hal banyak tahu justru membuat kita semakin penakut.


Okina Fitriani: Saya sangat tertarik dg kesimpulannya bahwa idelisme, tanggungjawabnya lebit tinggi. Semoga ini menjadi solusi penting dl pendidikan generasi. Apakah ada studi/research yg mendukung kesimpulan tersebut pak? Yg menunjukkan studi komparatif dg yg menikah di usia lebih mapan. Batasan usia disebut muda atau menikah cepat itu berapa tahun?

Salah satu studi komparatif yang pernah saya baca adalah bahwa tidak ada korelasi antara awetnya sebuah pernikahan, bahagianya sebuah pernikahan, dan harmonisnya sebuah pernikahan terkait dengan mapan dan tidak mapannya suatu pernikahan.

Artinya, orang yang mapan banyak yang pernikahannya berumur pendek, bermasalah dan penuh konflik, sedangkan orang yang tidak mapan pernikahannya bisa saja sangat berbahagia awet dan terjaga dari konflik.

Yang jelas orang-orang yang menikah dalam keadaan belum mapan jauh lebih siap dalam menghadapi sekian banyak permasalahan, gangguan dan tekanan dalam pernikahan. Sedangkan mereka mereka yang menikah dalam keadaan mapan justru tidak siap dalam menghadapi segala macam problematika hidup itu.

Dan yang lebih penting lagi. mereka tidak siap untuk membuat anak-anaknya berjuang dalam kehidupan itu sendiri.


Yeni Siti Wahyuni: Pak… mohon tips nya agar tidak terjerat pada keragu raguan ketika menerima lamaran seseorang

Pada dasarnya keragu-raguan dalam menerima lamaran seseorang lebih disebabkan karena faktor kurang beriman nya seseorang pada keyakinan bahwa jodoh itu Allah yang telah menetapkannya, dan pernikahan itu tidak pernah terjadi karena salah jodoh.

Yang kedua keragu-raguan itu juga disebabkan karena terlalu banyaknya kriteria yang ingin di tumpukan dalam mencari dan memilih jodoh atau

Yang ketiga keragu-raguan juga banyak disebabkan karena terlalu tingginya pernilaian atas diri sendiri.

Pernikahan itu sendiri adalah sebuah proses : proses untuk meningkatkan kemampuan, meningkatkan iman, meningkatkan ketakwaan, menyamakan frekuensi kita dengan jodoh kita dan seterusnya

Jadi janganlah menganggap pernikahan itu baru akan terjadi ketika kedua belah pihak telah sama sama siap dan matang, karena sekali lagi rumah tangga adalah sebuah proses.


Esal: Sama ini Pak, mungkin kalau anak muda ini permasalah terbesar menurut saya adalah ego.. Bagaimana memenej sikap dalam soal idealisme tersebut untuk diri sendiri agar bisa menahan dan terhadap orang lain agar ego tersebut bisa kearah yang lebih baik.. Karena diri sendiri kadang nggak bisa menilai ego tersebut baik atau buruk, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain..

*orang lain dalam artian bisa terhadap pasangan..😌😌

Pada dasarnya kedua pihak yang menikah sama-sama membawa egonya masing-masing. Apalagi ketika keduanya masih berusia muda.

Justru disitulah saatnya di mana kedua belah pihak mampu saling mendialogkan egonya masing-masing.

Ego itu sendiri tidak selamanya buruk. Bahkan anak-anak kita juga perlu kita didik dengan ego yang kuat, agar tidak mudah larut, tidak mudah berkompromi, tidak mudah menyerah, dan tidak mudah ikut-ikutan.

Orang Indonesia ini terkenal dengan manusia yang egonya lemah sehingga sangat mudah dipengaruhi. Dan itu justru disebabkan karena ketika mereka menikah, mereka menikah dengan ego yang masing-masing sudah melemah.


Seorang Akhwat: Pertanyaan titipan dari seorang akhwat.

Aslkm bang aad,
Terima kasih untuk sharing ilmu dan kesempatan diskusinya. Saya dulu bercita2 ingin berkeluarga dan memulai semua hal dr nol. Role modelnya orang tua saya sendiri yg mulai semua benar2 dari bawah.

Kondisinya skrg, saya blm menikah dan usia saya mendekati 30 thn. Usia yg buat orang2 di kampung sudah tidak muda lg ketika blm menikah.

Apakah saya pernah mencoba taaruf sebelumnya? Pernah. Tapi krn ternyata keluarga blm siap, akhirnya lebih baik tidak saya mulai. Terakhir saya mencoba taaruf sekitar 2.5 tahun lalu.

Hanya saja, semakin kesini, keinginan saya secara emosi untuk menikah hampir tidak ada. Saya malah diliputi banyak kecemasan tidak jelas. Seperti misalnya apakah nantinya laki2 tsbt tidak akan melakukan abuse thdp saya? Apakah nantinya tidak akan merasa inferior? Apakah akan mengizinkan saya berkarir? Apakah kami tidak akan berbeda dlm idealisme politik/agama? Dsb.

Keluarga sudah siap, secara keilmuan pun saya merasa sudah lebih matang (dibanding 3 th lalu). Saya bahkan punya daftar ttg mengenali diri saya sendiri, kekuatan, kelemahan, potensi, cara saya memanage masalah, ilmu apa saja yg harus saya tahu (dan sudah saya tahu), dll. Yg lebih aneh lagi, saya menuliskan harapan kapan kedepannya dlm berkeluarga dibidang finansial secara mendetil. Misalnya 1-5 thn pernikahan saya tidak keberatan finansial dititik beratkan utk eksplorasi masing2, 5-10 thn pendidikan anak, dan ditahun ke 10 misalnya baru utk menabung rumah/kendaraan/kebutuhan tersier lainnya (maaf kalau salah, krn ini yg saya pelajari ttg kebutuhan tersier. Hehe)

Pertanyaannya: Bagaimana solusinya? Sedang kita sendiri pun tahu bahwa dlm islam kita tidak boleh anti menikah. Apa yg harus saya lakukan agar saya tidak ragu/takut/cemas untuk memplanning sebuah pernikahan dlm rencana hidup saya?

Nah kasus semacam ini sangat analog dengan kasus orang yang mau masuk Islam, tapi dia belum bisa menutup aurat, dia belum bisa sholat, dia belum bisa baca Quran dan sebagainya.

Akhirnya membuat dia merasa berat dan menunda-nunda keputusannya untuk masuk Islam. Padahal sederhana saja masuk islam itu. Syaratnya cuma satu : bersyahadat.

Begitu pula dengan orang-orang yang mau menikah pada dasarnya menikah itu syaratnya sederhana saja, tapi kita yang memberat beratkannya dengan berbagai macam pertimbangan. kriteria, ketakutan, yang semuanya menjadi masalah.

Satu hal yang harus kita ingat : Syaithan itu sangat takut dengan orang yang akan menikah, dan dia akan selalu menimbulkan keragu-raguan agar seseorang itu bimbang, takut dan menunda pernikahan.

Bahkan saat kita sudah menikah pun, syaithan tak henti-hentinya ingin menggagalkan dan menceraikan pernikahan itu.

Jadi pada dasarnya persoalan yang sedang dihadapi adalah kita sedang diganggu syaithan untuk melakukan sesuatu yang sangat besar nilainya dalam timbangan agama.

Dalam beberapa hal menikah bukan hanya untuk kepentingan kita, tapi untuk kepentingan membangun peradaban manusia di masa akan datang, peradaban yang lebih Islami.


Yeni Siti Wahyuni: Ternyata selama ini banyak kekeliruan 😭
Sebenarnya untuk proses ta’aruf sebelum nikah itu cukup sampai mana ustadz?? Sekedar mengetahui hal apa saja… supaya ngga berujung milih2 malah jadi maju mundur

Proses ta’aruf itu hanyalah sampai pada titik dimana kita merasa tentram untuk menerima seseorang, karena ta’aruf yang selanjutnya akan terjadi seumur hidup. Selama pernikahan itu terjadi. proses ta’aruf akan selalu terjadi

Pada zaman kami dulu bahkan proses ta’aruf itu hanya berlangsung nggak sampai setengah jam. Curriculum Vitae yang kita berikan kepada calon kita pun tidak sampai setengah lembar kertas HVS.

Orang yang telah berserah diri kepada Allah tentang pernikahannya, dia tidak akan membutuhkan curriculum vitae dan proses ta’aruf yang berpanjang-panjang.


Zie: ✋🏻 izin bertanya Bang Aad.

Saya melihat konsep menikah sebelum mapan yg Bang Aad usung sepertinya ditujukan kepada temen2 yg berpendidikan tinggi, benarkah kesimpulan saya ini Bang Aad?

Karena ada banyak kasus teman2 di kampung saya yg menikah muda dan belum mapan dalam artian materi dan ilmu, juga hanya modal nyali, tetapi pendidikannya kurang tinggi (bahkan tdk sampai SMA), Saya lihat anak-anak mereka juga tidak punya semangat belajar dan semangat hidup yang tinggi, dan cara mereka mendidik anak-anaknya pun sebatas kebutuhan pokok sehari-hari atau sekenanya saja karena minimnya ilmu parenting.

Dalam beberapa hal ada benarnya, karena saya melihat belakangan ini orang orang yang berpendidikan tinggi memiliki terlalu banyak kriteria dan pertimbangan dalam memutuskan untuk menikah.

Lalu ketika mereka telah menikah dalam keadaan mapan secara ekonomi, mereka kebingungan sendiri bagaimana caranya mendidik anak berjuang dalam hidup mereka, bingung sendiri bagaimana caranya menempa anak agar mampu menghadapi kerasnya kehidupan, karena mereka pun telah terlanjur mapan.

Tapi di sisi lain pesan ini saya sampaikan kepada semua kalangan, karena orang-orang yang berpendidikan rendah, orang-orang yang tinggal di kampung sekalipun, saat ini cenderung untuk menunda-nunda pernikahannya menuju mapan.

Dalam pelatihan pelatihan pra pensiun yang sering kali saya lakukan, betapa banyaknya orang tua – orang tua kita yang menjelang pensiun merasa menyesal bahwa mereka menikah dalam usia yang telah tergolong lanjut, tergolong mapan dan sebagainya.

Itu menjadi sesalan bagi mereka pada saat mereka menjelang memasuki usia pensiun: anak-anak masih kecil-kecil dan cenderung manja-manja.


Seorang Akhwat: Kalau dalam islam ada contoh wanita mulia yg mengajukan menikah lebih dulu pada ikhwan.

Tapi konteks kekinian, Hal itu belum common.

Baiknya sikap yg ahsan bagaimana klo ukhti nya merasa orang tersebut orang yg berpotensi berjuang bersama?

Seorang perempuan yang mengajukan ketertarikannya terhadap seorang laki-laki, bukanlah hal yang terlarang dalam ajaran Islam.

Namun, jika dalam norma budaya sikap inisiatif tersebut dianggap tidak pantas, maka bisa dilakukan dengan cara lain. Misalnya dengan meminta bantuan pihak ketiga. Pihak ketiga itu bisa dalam bentuk teman yang sudah menikah, atau saudara laki-laki dan sebagainya.

Karena sekali lagi pernikahan itu adalah sebuah perjuangan. Pernikahan adalah sesuatu yang harganya sangat mahal di dalam takaran Islam, yaitu setengah agama. Sehingga ia memang harus diperjuangkan dengan keras, bukan hanya oleh pihak laki-laki tapi juga oleh pihak perempuan.

Proses perjodohan dan pernikahan memang perlu dilakukan dengan sekuat tenaga, karena syaithan pun ingin menghalang-halangi nya dengan sekuat tenaga pula.


Seorang Akhwat: Bentuk ikhtiar akhwat untuk menikah seperti apa? 😆

Bentuk ikhtiar seorang akhwat untuk menikah ada banyak hal. Yang paling utama adalah membulatkan tekad untuk menikah itu sendiri. Karena tekad akan memudahkan jalan, akan membuat Allah mengabulkan dan melancarkan jalan tersebut

Yang kedua binalah diri sebaik-baiknya, tingkatkan kualitas dengan setinggi-tingginya. Karena laki-laki yang baik Allah akan jodohkan dengan perempuan yang baik, laki-laki yang berkualitas akan Allah jodohkan dengan perempuan yang berkualitas dan seterusnya

Kemudian langkah ketiga adalah memasrahkan diri sebulat bulatnya kepada Allah tentang perjodohan kita. Karena jika jodoh akan jadi, jika tidak jodoh tidak akan jadi

Ikhtiar kita itu adalah memasrahkan diri, bukan memperbanyak kriteria orang yang akan dianggap cocok sebagai calon suami kita.

Ingatlah sebuah prinsip statistik : bertambah kriteria akan mengurangi peluang.

Percayalah, yang paling tahu siapa yang cocok untuk menjadi calon suami kita adalah Allah bukan kita.

Sahabat sahabat sekalian, di masjid Salman ITB ada program yang namanya Sekolah Pra-Nikah atau SPN

Dalam satu tahun SPN itu dilaksanakan sebanyak 4 kali. Di dalam forum tersebut saya sering membahas tentang konsep jodoh. ta’aruf dan permasalahan dalam rumah tangga.

SPN itu diselenggarakan oleh Bidang Dakwah Masjid Salman ITB. Silakan bergabung.


Kalimat Penutup “Menikah Sebelum Mapan”

Dulu saat saya memutuskan untuk menikah pada usia 21 tahun, segala urusan Perjodohan dan pernikahan saya saya serahkan sepenuhnya pada kehendak Allah.

Dengan cara memasrahkan diri sebulatnya seperti itupun, urusan perjodohan tidak menjadi sangat mudah. Saya siap menikah di usia 21 tahun dan baru menikah di usia 23 tahun.

Lalu dengan memasrahkan diri kepada Allah, apakah kemudian saya mendapatkan jodoh yang buruk dan tidak cocok? Sama sekali tidak. Allah memberikan kepada saya jodoh yang paling pas untuk saya. Dan kami telah menikah hampir 30 tahun.