web hit counter
//
you're reading...

College's Life

Sikap Mereka kepada Ilmu

sikap mereka kepada ilmu

Ilustrasi: belajar kelompok, semangat kepada ilmu.

Mahasiswa itu semacam kelas elit di masyarakat yang beruntung terdidik agar menjadi pelita di lingkungannya. Sikap mereka kepada ilmu benar-benar akan menentukan bagaimana Indonesia ini 20-30 tahun lagi. Pengganti generasi orang tua, ya kita-kita yang muda dan terdidik ini.

Satu kesempatan ada mahasiswa yang minta tolong untuk dijelaskan dan diajari satu teknik tertentu yang akan dia gunakan dalam tugas akhirnya. Sebagai mahasiswa S2 di sini, sudah ada kultur untuk saling berbagi pengetahuan apalagi kalau dosen pembimbingnya sibuk, dengan mudah mahasiswa S1 bisa ngobrol ke mahasiswa S2 atau S3. Saya menerima mereka. Ini yang saya suka dari ITB, kultur diskusi kritis amat hidup! Aliran pengetahuan di sini cepat berpindah dari orang ke orang lain, tidak perlu daftar kelas tertentu untuk tahu hal baru dan penting. Ngobrol santai aja dengan “teman” se-lab.

Pada pertemuan itu saya jelaskan semuanya dengan urut dan berkali-kali. Pada akhir sesi temu itu satu orang sudah fiks paham, dengan bukti saya melihat sendiri dia mampu mengulang prosedur yang sudah saya tuntunkan. Seorang lagi saya pasrahkan untuk bertanya dengan temannya, karena belakangan dia mengaku pergi sesaat untuk keperluan yang padahal tidak urgen. Oh ya tugas akhir di ITB satu judul untuk dua orang, enak banget kan? Sewajarnya mereka harus bisa saling melengkapi dan giat belajar terhadap hal-hal yang belum mereka tahu.

Sikap mereka kepada ilmu

Sore tadi saya dihubungi salah seorang yang sengaja tidak serius menyimak sesi temu dengan saya saat itu. Ia minta tolong dijelaskan lagi. Lagi? Saya kecewa dengan sikap mereka kepada ilmu. Seorang lagi yang fiks sudah paham mengaku nggak ngerti ke temannya. Saya serius-serius menjelaskan sambil berharap saya bisa menjadi jalan keberhasilan mereka lulus tepat waktu. Seseorang menyediakan waktunya untuk menjelaskan hal yang penting, penting bagi diri mereka sendiri bukan bagi saya. Untuk menghargai usaha saya dalam menjelaskan, saya tidak perlu dibayar.. cukup simak dengan baik atau catat lalu paham. Jangan minta waktu tambahan untuk minta diajari dari nol (lagi).

Kenapa nol? Karena terlihat dari cara bertanyanya.

Saya mulai mencatat anak-anak ini amat rendah semangatnya dalam belajar ilmu. Kebanyakan waktunya dihabiskan untuk pacaran dan bersenang-senang. Saya punya prinsip: hidup ini pilihan, yang kamu pilih apapun konsekuensinya harus ditanggung sendiri. Jangan merepotkan orang lain. Saya mungkin sudah dianggap liberal, saya membiarkan orang pacaran ketimbang mengurusi tugas akhirnya, makan babi padahal muslim, meninggalkan shalat padahal muslim, dan lain-lain. Bebas aja sih, konsekuensi tanggung sendiri.. karena saya yakin di ITB isinya orang-orang pinter dan bertanggung jawab.

Pada kesempatan lain setiap saya giliran bicara, mereka suka bicara dengan topik yang dibuat sendiri, gosip artis ini, model baju itu, menu masakan, dan lain-lain. Bayangkan kamu bicara tentang ilmu semeja 6 mata (3 orang termasuk saya), tapi 2 orang lainnya bikin topik sendiri dan mengabaikan yang sedang bicara. Waktu itu saya biarkan dulu, mungkin memang bosen atau gimana, tapi ternyata diulangi lagi sikap ceroboh semacam ini.

Cara bertanya

Hal yang saya soroti lagi adalah cara mereka dalam bertanya dengan mempertontonkan kemalasannya.

“Kaak, ini gimana caranya? Ajariinn..”, bayangkan dengan pengucapan nada manis manja.

“Kaak, yang bagian ini diapaiin?”

What am I supposed to answer?

Bahkan bertanya pun ada tekniknya. Beberapa orang kadang memang terbiasa memanfaatkan daya tariknya kepada lawan jenis agar seseorang melakukan sesuatu untuknya. Paling tidak tunjukkan dulu usahamu sudah sampai mana lalu bertanya di bagian yang tidak paham. Saya tekankan ini konteks akademik ya.

“Kak, aku sudah melakukan ini dan itu tapi di bagian ini ada ini. Sehingga tidak bisa ini. Kenapa cara itu nggak bisa ya? Apa ada yang terlewat?”

“Kak, aku baca di PDF manual ini katanya begini. Tapi pas kakak ajarin begitu, apa hasilnya sama aja ya?”

“Kak menurutku bagian ini dilakukan seperti ini, ini, dan itu. Lalu hasilnya jadi begini dan begitu. Kira-kira sudah cukup nggak ya?”

Saya yakin hal-hal semacam ini dirasakan para dosen, dan solusi dari dosen-dosen adalah dengan “mengambil jarak”. Ketika hubungan terlalu dekat atau terlalu longgar hasilnya adalah akrab manja yang meremehkan ilmu, mending tidak usah akrab sekalian agar benar-benar serius dalam belajar. Karena sekali lagi ini konteksnya kampus atau perguruan tinggi. Tempat di mana kelas elit bernama mahasiswa ditunggu masyarakat untuk membuat perubahan serius bagi bangsa.

Ah Rifqi, kamu terlalu serius!

Kita bisa bercanda di ruang dan waktu yang tepat kok. Pada janji temu itu konteksnya adalah akademik, konsultasi tugas akhir dan ruangannya pun di laboratorium. Untuk konteks di luar itu saya manut, ikut dengan aturan dan norma setempat. Semisal hubungan orang tua dan anak, suami dan istri, anak kos dengan tetangga komplek, dan lain-lain yang di luar konteks akademik.

Dalam situasi semacam ini saya iba kepada mereka, kalau ITB meluluskan mahasiswa yang punya sikap seperti ini saya khawatir lulusan ITB dipandang sebelah mata. Pada hal-hal sederhana seperti mengoperasikan tabel di Microsoft Word masih terbata. Saya nggak paham lagi. Titel sarjana itu sulit lho, jangan meremehkan. Ijazah sarjana kalian nantinya itu dari Institut Teknologi Bandung, bukan dari kampus lain!

Yang mengerjakan tugas akhir harus mahasiswa itu sendiri, bukan saya apalagi dosennya. Selama saya menempuh pendidikan di UGM dan ITB, belum pernah ada dosen yang mau ngajari hal-hal prosedural. Bagian ini selalu dilepas karena itu memang bagian dari metode pendidikan institusi. Sering dosen hanya memberi keywords agar saya mencari sendiri. Tugas akhir juga harus menanamkan konsep penting kepada yang mengerjakan. Kalau hanya klik ini, klik itu, buat tabel ini, tabel itu, ukur ini, ukur itu maka keterampilan itu juga bisa didapat di D3 atau D4. Tidak perlu jadi sarjana S1. Tugas akhir juga disebut proses pendewasaan dan pematangan kemampuan berpikir. Maka wajar dalam pengerjaannya seakan banyak cobaan dan kesulitan di sana-sini, itu wajar sekali.

Jika saya menuntun semua tahapan prosedural tanpa memberi waktu mereka belajar sendiri konsepnya, justru saya telah melakukan kesalahan fatal. Saya membuat mereka merasa lancar mengerjakan tugas akhir padahal belum menguasai dasar-dasar konsep berfikirnya.

Ah Rifqi, kamu terlalu serius!

Benar, karena saya sekolah dengan uang keringat rakyat.


Sesaat tulisan ini diterbitkan malah nemu bacaan dari Jakarta Globe.

‘Hedonistic’ University Students Under Spotlight